Sejarah Paskah
Paskah
berasal dari kata di Alkitab Ibrani yang pertama kali sering disebut dalam
Keluaran. Dalam kalimat Inggris diterjemahkan dengan kata “Passover” yang
artinya melewatkan. Penggunaan kata “Paskah” diperkirakan diambil dari kata
negara Yahudi, yakni “Keni” yang pemaknaannya diperbaharui lagi oleh Israel.
Adapun Maknanya diartikan sebagai terbebasnya negara Yahudi dari perbudakan
yang dilakukan oleh negara Mesir. Sejarah peringatan Paskah memiliki dua versi,
yakni dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Berikut penjelasan lebih
lanjut mengenai Paskah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Sejarah Paskah dalam Perjanjian Lama
Dalam
Perjanjian Lama, Paskah sering kali disebut dengan Passover atau Pesakh yang
berasal dari bahasa Ibrani. Namun, sekarang berganti nama menjadi “Pascha”.
Dengan juga mengadakan upacara korban domba paskah, ini merupakan suatu tugas
dan perinta Tuhan agar dikenang oleh Musa san bani-bani orang Israel (Keluaran
12: 14-17).
Baca Juga : Apa Pengertian Paskah dalam ajaran Kartolik
Berikut peristiwa yang diperingati pada Perjanjian Lama.
Masa
lalu, umat Kristiani merayakan Paskah hanya dalam berbentuk sebagai lambang
saja. Yang tertulis dalam alkitab pada pasal Kolose 2:17 juga pada Ibrani 10:1.
Hari raya pada masa perjanjian lama adalah bayangan dari apa yang akan datang,
dan wujud serta dalamnya hanya ada pada Yesus sendiri. Di dalam Pernjanjian
lama di dalam alkitab, paskah sering disebut dengan nama Passover atau juga
sering dibilang dengan kata lain yaitu Pesakh yang berasal dari kata Ibrani. Pascha
dalam negara Yunani adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir,
dimana pada saat itu diadakan upacara “roti tidak beragi” dan persembahan bagi
anak-anak sulung
Sejarah Paskah dalam Perjanjian Baru
Paskah
dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebenarnya berjalan beriringan. Dalam
Perjanjian Baru, Paskah lebih ditujukan untuk menonjolkan cinta kasih,
anugerah, dan Kuasa yang diberikan Allah kepada kita, umat Kristiani. Untuk menghindari
umat-Nya dari kutukan dan maut, Yesus membebaskan orang yang percaya dari
perbudakan dosa dan memberikannya kepastian mengenai keabadian pada akhir
zaman. Kebangkitan di akhir zaman telah dibuktikan dengan adanya peristiwa
kebangkitan Yesus dengan mengalami banyak penderitaan. Adapun peristiwa yang
dimaksud adalah penyaliban diri Yesus pada kayu salib. Tentu hal ini menjadi
pembuktian bahwa kebankitan Tuhan Yesus abadi dalam hidup-Nya
Berikut peristiwa yang diperingati pada Perjanjian Baru.
- Peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Kristus bukan saja mempunyai makna keluaran yang sama dengan Paskah Yahudi.
- Upacara perjamuan makan “Roti tidak Beragi” yang diadakan pada hari Jumat malam kemudian menjadi peringatan “Upacara Perjamuan Malam” yang dilakukan oleh Yesus dan rasulnya.
- Upacara perjamuan itu kemudian dijadikan peringatan “jumat agung” dalam kalender Kristen. Sekalipun begitu, upacara makan roti perjamuan juga dirayakan setiap umat bertemu dalam persekutuan.
- Upacara makan roti perjamuan itu menyiapkan penebusan Yesus, dimana Ia menjadi “Dombah Paskah” disalibkan (Yohanes 20:1,19,26, Kisah Para Rasul 20:1, Korintus 16:20, Wahyu 1:10).
Perayaan
mingguan mengenang kebangkitan Yesus inilah yang membuktikan dengan jelas bahwa
peristiwa kebangkitan Yesus terjadi dalam sejarah, dalam ruang dan waktu, sebab
dalam perayaan “Sabat” yang begitu ketat diikuti oleh umat yahudi dalam praktik
umat kristiani (terutama Yahudi Kristen) telah bergeser menjadi “Hari Tuhan”
yaitu kenangan akan hari kebangkitan.
